Ilmu Titen Menurut Masyarakat Pesisir Selatan Yogyakarta

SASMITA Pesisir Selatan

Rekonstruksi Ilmu Titen sebagai Peramalan Jawa Tradisional dalam Membaca Isu Megathrust di Yogyakarta

SASMITA Pesisir Selatan merupakan sebuah penelitian yang mengkaji bagaimana Ilmu Titen, sebagai pengetahuan tradisional masyarakat Jawa, dapat dipahami kembali dalam konteks ilmu kebencanaan modern. Penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa wilayah pesisir selatan Daerah Istimewa Yogyakarta berada di kawasan yang memiliki potensi gempa bumi besar akibat aktivitas Megathrust Selatan Jawa.

Melalui pendekatan ilmiah yang dipadukan dengan kearifan lokal, penelitian ini tidak bertujuan menggantikan informasi resmi dari lembaga kebencanaan, melainkan menunjukkan bahwa pengetahuan lokal dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi dan kesiapsiagaan masyarakat.

Latar Belakang

Pesisir selatan Yogyakarta merupakan wilayah yang berada di dekat zona subduksi aktif sehingga memiliki potensi gempa bumi berkekuatan besar dan tsunami. Informasi mengenai ancaman tersebut telah banyak dikembangkan oleh lembaga seperti BMKG dan Pusat Studi Gempa Nasional (PusGen). Namun, informasi ilmiah tersebut belum selalu mudah dipahami atau diterapkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, masyarakat Jawa telah lama mengenal Ilmu Titen, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan terhadap perubahan alam secara berulang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan ini menjadi bagian dari budaya masyarakat dalam memahami lingkungan dan mengantisipasi berbagai fenomena alam.

Melihat adanya kesenjangan antara pengetahuan ilmiah modern dan pengetahuan lokal, penelitian ini menghadirkan SASMITA Pesisir Selatan sebagai model integrasi yang menghubungkan keduanya melalui media pembelajaran digital.

Temuan Wawancara dengan Masyarakat Parangtritis

‘Membaca Tanda Alam: Ilmu Titen dan Sasmita Alam dalam Kesiapsiagaan Bencana Masyarakat Parangtritis’

Berdasarkan wawancara bersama Bapak Ilyas selaku Carik Kelurahan Parangtritis dan Bapak Suroso selaku Ketua FPRB, Ilmu Titen dan Sasmita Alam dipahami sebagai wujud kearifan lokal yang lahir dari interaksi dan observasi mendalam masyarakat terhadap lingkungannya. Pengetahuan tradisional ini tumbuh dari pengalaman empiris yang kemudian diwariskan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan, praktik langsung, serta kebiasaan warga dalam mengamati berbagai dinamika alam.

Dalam penerapannya, masyarakat menggunakan ilmu ini dengan memperhatikan kejanggalan atau perubahan pada lingkungan sekitar, seperti anomali perilaku hewan, kondisi cuaca, arah angin, hingga keadaan air laut. Indikator-indikator alam tersebut difungsikan sebagai peringatan dini untuk menumbuhkan sikap waspada. Selain itu, memori kolektif warga terhadap bencana yang pernah melanda, khususnya peristiwa gempa bumi pada tahun 2006, turut memperkuat ketajaman ingatan mereka dalam mengenali tanda-tanda prabencana.

Meski sangat bermakna bagi warga, Ilmu Titen dan Sasmita Alam memiliki keterbatasan karena tidak bisa dijadikan landasan pasti untuk memprediksi kapan gempa bumi atau tsunami akan melanda. Tanda-tanda alam yang dibaca lebih berfungsi sebagai sistem alarm mandiri untuk melatih kepekaan dan kewaspadaan. Oleh sebab itu, esensi dari kearifan lokal ini terletak pada kemampuannya dalam membantu warga merespons perubahan lingkungan agar lebih tanggap dan siap siaga terhadap ancaman bencana.

Keberadaan pengetahuan tradisional ini tidak semestinya dibenturkan dengan kemajuan sains modern, melainkan bisa disinergikan. Keduanya dapat saling mendukung, dengan catatan bahwa Ilmu Titen tidak boleh menafikan atau menggantikan peran peringatan resmi dari lembaga berwenang seperti BMKG. Pada akhirnya, melestarikan kearifan masyarakat Parangtritis ini menjadi langkah krusial agar generasi muda dapat ikut merawat tradisi, sekaligus menjadikannya bekal penting dalam membangun kesadaran mitigasi bencana di masa depan.

Bagikan:

Related Post

Tinggalkan komentar