Berdasarkan rekam jejak sejarah kejadiannya, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merupakan wilayah yang memiliki berbagai potensi bencana, baik bencana alam, nonalam, maupun sosial. Salah satu ancaman yang memiliki sejarah panjang dan berulang adalah gempa bumi. Secara tektonik, Yogyakarta berada pada kawasan seismik aktif dan kompleks karena terletak di bagian selatan Pulau Jawa yang berdekatan dengan zona tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia serta memiliki sejumlah sesar aktif di daratan, termasuk Sesar Opak. Kondisi tersebut menjadikan wilayah Yogyakarta memiliki potensi kegempaan yang relatif tinggi.
Rekaman sejarah menunjukkan bahwa DIY telah mengalami 12 kejadian gempa bumi merusak, yaitu pada 1840, 1859, 1867, 1875, 1937, 1943, 1957, 1981, 1992, 2001, 2004, dan 2006. Dari rangkaian tersebut, gempa tahun 1867, 1943, dan 2006 tercatat sebagai kejadian dengan dampak yang sangat besar terhadap masyarakat dan lingkungan terbangun. Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman gempa bumi di Yogyakarta bukan merupakan fenomena baru, melainkan bagian dari karakter kebencanaan wilayah yang telah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang.



Gambar 1. Tugu Pal Putih sebagai salah satu peninggalan sejarah Yogyakarta yang berkaitan dengan peristiwa gempa 1867.
Sumber: Indonesia Travel.
Salah satu kejadian penting dalam sejarah kegempaan Yogyakarta adalah gempa bumi 10 Juni 1867. Berdasarkan katalog gempa bumi merusak BNPB, gempa tersebut mencapai intensitas VIII–IX MMI, menyebabkan lima orang meninggal dunia dan 372 rumah roboh, serta getarannya dirasakan hingga Surakarta. Gempa juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan penting di Yogyakarta, termasuk kompleks Keraton dan bangunan pemerintahan kolonial. BNPB mencatat bahwa gempa 1867 diperkirakan berpusat di sekitar aliran Sungai Opak atau berkaitan dengan Sesar Opak, sehingga memiliki kemiripan dengan sumber gempa Yogyakarta pada 2006. Catatan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas sesar di wilayah Yogyakarta telah berkontribusi terhadap kejadian gempa sejak masa historis. Dengan demikian, gempa 1867 tidak hanya penting sebagai catatan sejarah kebencanaan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai kemungkinan keterulangan aktivitas kegempaan pada struktur geologi yang sama.
Memasuki abad ke-20, kejadian gempa merusak kembali tercatat di kawasan selatan Yogyakarta, salah satunya gempa 27 September 1937 yang berpusat di wilayah selatan Bantul. Nuskari (2024) mencatat bahwa gempa tersebut memiliki kekuatan sekitar 7,2 magnitudo dan guncangannya dirasakan hingga Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Peristiwa tersebut menyebabkan korban jiwa dan kerusakan pada ribuan bangunan serta diikuti oleh sejumlah gempa susulan hingga 5 Oktober 1937. Data katalog gempa signifikan dan merusak BMKG juga mencatat bahwa gempa 1937 menimbulkan intensitas VIII–IX MMI di Yogyakarta, merusak sekitar 2.200 rumah, serta menyebabkan 326 batu Candi Prambanan roboh. Beberapa tahun kemudian, gempa 23 Juli 1943 kembali memberikan dampak besar dengan intensitas VIII–IX MMI. Katalog BNPB mencatat 213 orang meninggal, 2.096 orang mengalami luka-luka, dan sekitar 2.800 rumah hancur. Gempa tersebut juga dirasakan hingga Garut dan Surakarta. Rangkaian peristiwa 1937 dan 1943 memperkuat bukti bahwa kawasan Yogyakarta dan selatan Jawa memiliki sejarah kegempaan yang berulang serta dapat menghasilkan guncangan dengan intensitas tinggi.



Gambar 2. Kondisi Candi Prambanan pascagempa yang menyebabkan kerusakan pada sejumlah bagian candi.
Sumber: Arsip Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Peristiwa kegempaan yang kemudian menjadi salah satu bencana terbesar dalam sejarah modern Yogyakarta terjadi pada 27 Mei 2006. Gempa tersebut mengguncang wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah pada pagi hari dan berkaitan dengan aktivitas sesar aktif di daratan. Katalog BNPB mencatat gempa Bantul 2006 dengan magnitudo sekitar 6,2 Mw, kedalaman 17,1 km, dan intensitas mencapai VIII MMI. Dampaknya sangat luas, terutama di Kabupaten Bantul, tetapi juga dirasakan di wilayah Sleman, Gunungkidul, Kulon Progo, Yogyakarta, dan sebagian Jawa Tengah. Lebih dari 5.700 orang meninggal dunia, ribuan orang mengalami luka-luka, dan ribuan bangunan serta rumah penduduk mengalami kerusakan atau roboh. Penelitian Sulaeman et al. (2008) juga menunjukkan bahwa episentrum gempa berada sekitar 10 km di sebelah timur Bantul dan berkaitan dengan struktur sesar berarah barat daya–timur laut yang berhubungan dengan Sesar Opak. Bahkan setelah gempa utama tersebut, aktivitas kegempaan di sekitar Sesar Opak-Oyo tetap berlangsung. Penelitian Wibowo dan Sembri (2017) mencatat 66 kejadian gempa selama periode 2008–2017, dengan konsentrasi episentrum di sekitar jalur Sesar Opak-Oyo.



Gambar 3. Kondisi kerusakan bangunan akibat gempa bumi Yogyakarta pada 27 Mei 2006.
Sumber: dokumentasi AFP/Getty Images.
Rentetan kejadian tersebut menunjukkan bahwa gempa bumi merupakan ancaman yang bersifat berulang di wilayah Yogyakarta dan kawasan selatannya. Kejadian 1867, 1937, 1943, 1981, dan 2006 memperlihatkan bahwa gempa dengan intensitas merusak telah terjadi pada beberapa periode sejarah yang berbeda, sedangkan aktivitas kegempaan pasca-2006 menunjukkan bahwa sumber-sumber gempa di wilayah tersebut masih aktif. Penelitian mengenai wilayah Sesar Opak juga menegaskan bahwa aktivitas gempa tetap menjadi perhatian dalam upaya mitigasi di Yogyakarta. Kondisi tersebut diperkuat oleh keberadaan zona subduksi di selatan Jawa yang menjadi sumber potensi gempa besar, sementara sesar-sesar aktif di daratan dapat menghasilkan gempa yang sumbernya lebih dekat dengan kawasan permukiman. Oleh karena itu, sejarah kegempaan Yogyakarta tidak hanya perlu dipahami sebagai catatan peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai dasar untuk meningkatkan literasi kebencanaan, kesiapsiagaan, mitigasi, dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi kemungkinan kejadian gempa di masa mendatang. Dengan memahami pola dan dampak gempa yang pernah terjadi, masyarakat dapat membangun kesadaran bahwa risiko bencana merupakan bagian dari kondisi lingkungan Yogyakarta yang perlu diantisipasi secara berkelanjutan.
Daftar sumber utama yang digunakan
- BNPB, Sejarah Gempa dan Hikmah Keistimewaan Bumi Yogyakarta. BNPB – Sejarah Gempa Yogyakarta
- BNPB, Katalog Gempabumi Merusak Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Katalog Gempabumi Merusak BNPB
- BMKG, Katalog Gempa Signifikan dan Merusak 1821–2017. Katalog Gempa Signifikan dan Merusak BMKG
- Nuskari, S. A. (2024), Sejarah Gempa Bumi Tektonik di Jawa Bagian Selatan 1937, Universitas Gadjah Mada.
- Sulaeman et al. (2008), kajian gempa Yogyakarta 2006 dan Sesar Opak.
- Wibowo & Sembri (2017), kajian aktivitas kegempaan Sesar Opak-Oyo periode 2008–2017.






Tinggalkan komentar